Rabu, 26 Februari 2014

Perkembangan Agama


Perkembangan agama pada anak-anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang didapatkannya, terutama pada masa-masa pertumbuhan (0 – 12 tahun). Seorang anak yang pada masa itu tidak mendapatkan pendidikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama.
Seyogyanya agama masuk ke dalam pribadi anak bersamaan dengan pertumbuhan pribadinya, yaitu sejak lahir, bahkan lebih dari itu, sejak dalam kandungan. Karena dalam pengamatan para ahli psikologi terhadap orang-orang yang mengalami kesukaran kejiwaan. Tampak bahwa keadaan dan sikap orang tua ketika si anak dalam kandungan telah mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan jiwa anak dikemudian hari.
Hubungan anak dengan orang tuanya, mempunyai pengaruh dalam perkembangan agama anak. Anak yang merasakan adanya hubungan hangat dengan orang tuanya, merasa bahwa ia disayangi dan dilindungi serta mendapat perlakuan yang baik, biasanya akan mudah menerima dan mengikuti kebiasaan orang tuanya dan selanjutnya akan cenderung kepada agama. Akan tetapi, hubungan yang kurang serasi, penuh ketakutan dan kecemasan, akan menyebabkan sukarnya perkembangan agama anak.
Anak akan menerima apa saja yang dikatakan oleh orang tuanya. Dia belum mempunyai kemampuan untuk memikirkan kata itu. Bagi anak, orang tuanya adalah benar, berkuasa, pandai dan menentukan. Oleh karena itu maka pertumbuhan agama pada anak tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya, karena tergantung pada lingkungan keluarganya (dominasi orang tua).
Sehubungan dengan pertumbuhan kepercayaan pada anak-anak, terjadi pula proses perkembangan pengertian tentang masalah yang ghaib, seperti mati. Anak-anak belum bisa mengerti bahwa mati adalah hal yang wajar bagi setiap orang yang bernyawa, termasuk manusia dan dia sendiri. Pada umumnya masalah mati memang satu masalah yang tidak menyenangkan, bahkan menimbulkan ketakutan, itu sebabnya maka banyak orang dewasa berusaha menghindari anak-anak dari pengertian dan ketakutan akan mati tersebut.
Pada permulaan, mati bagi anak-anak mengandung pengertian antara lain:
  1. Hati adalah hukuman, yaitu orang yang jahat sajalah yang akan mati, karena ia menyangka bahwa mati itu adalah sekedar perasaan sakit yang diderita orang. 
  2. Mati adalah penyakit. Disangka oleh anak-anak bahwa mati adalah terhalangnya sebagian orang dari menjalankan tugasnya, maka mati selalu berhubungan dengan pemikiran anak-anak dengan dokter, ambulance dan sebagainya. 
  3. Disamping itu, anak-anak menyangka bahwa mati adalah peristiwa (kecelakaan) yang tiba-tiba, misalnya tabrakan, tenggelam, kena pukul dan sebagainya. Maka mati bukanlah keadaan umum dan bukanlah akhir dari setiap yang hidup. 
  4. Tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh pengertian anak tentang mati adalah tidur.
Dengan semakin bertambahnya umur, pengertian tentang mati oleh anak semakin terdoronglah jiwanya untuk menentang atau menguah artinya, guna menguraikan kegelisahannya seseorang belum dapat dikatakan matang, jika belum dapat menerima kenyataan mati yang sebenarnya, hanya saja pengertian itu tidak didapatkan sekaligus, tetapi dengan berangsur-angsur.
Jadi, perkembangan jiwa agama pada anak dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman-pengalamannya yang didapatkan dari lingkungannya. Tetapi semua pengalaman itu akan berubah sesuai dengan umur (kematangan) anak oleh pendidikan yang didapatkannya. Jelas disini bahwa, pendidikan agama yang sehat pada masa anak-anak akan mempengaruhi jiwa agama pada anak selanjutnya.
Religiusitas adalah salah satu komponen bahasan dalam ilmu psikologi, khususnya psikologi agama. Memang, sangat sulit mengembangkan salah satu disiplin ilmu ini, karena ada beberapa rintangan dan kekurangan serta keterbatasan dalam mempelajari sikap religious seseorang, diantaranya, agama itu sendiri susah di empiriskan, melanggar norma agama, dan kepercayaan adalah hal yang bersifat abstrak.
Salah satu cara untuk mempelajari jiwa agama adalah dengan mempelajari tingkah laku agama yang tampak. Pada tahun 1922, Thouless mengembangkan metode filsafat untuk mempelajari jiwa agama dan menerbitkan buku pada tahun 1923 dengan judul “an Introduction to the Psychology of Religion”.
Thouless menentang pendapat orang orang-orang yang mengatakan bahwa penelitian ilmiah akan menghilangkan keyakinan beragama, dan sebaliknya dia mengatakan, dimana penelitian secara ilmiah akan dapat menjadi sandaran yang kuat bagi agama. Ia berangkat mempelajari agama dengan mempelajari defenisi-defenisi agama yang ada menghasilkan kesimpulan bahwa agama terdapat tiga komponen didalamnya yaitu tanggapan emosi dan dorongan. Ketiganya merupakan tiga komponen dari agama yaitu:
a.     Yang pertama melukiskan tentang cara dan kelakuan
b.    Yang kedua adalah keyakinan dan pendapat akal
c.     Yang ketiga adalah ala-alat, perasaan dan emosi.
Dari sinilah dia menyimpulkan bahwa agama adalah proses hubungan manusia terhadap sesuatu yang diyakininya, bahwa sesuatu itu lebih tinggi dari manusia.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa, ada empat faktor yang mempengaruhi jiwa agama atau religiusitas seseorang, yaitu:
Faktor sosial
Faktor sosial yang mempengaruhi religiusitas seseorang seperti pendidikan dan pengajaran orang tua ataupun tradisi sosial dan budaya yang berkembang dilingkungan orang yang bersangkutan
Faktor alami, moral dan afektif
Faktor ini seperti konflik, pengalaman emosional, kekecewaan terhadap sesuatu yang melibatkan perasaan mendalam, tuntutan-tuntutan moral, baik setuju ataupun menolak moral tersebut
Faktor kebutuhan
Seseorang beragama, karena orang tersebut membutuhkan agama sebagai sandaran, lepas dari rasa bersalah, rasa aman, cinta kasih dan lain-lain dan tempat mengadu jika dalam kesedihan.
Faktor intelektual
Faktor ini berhubungan dengan proses pemikiran verbal, terutama dalam pembentukan keyakinan-keyakinan terhadap agama. Faktor ini sangat penting, karena akan mengembangkan sikap agama yang positif.

Referensi:
Thoules, R.H. 2000. Pengantar Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Press
Rakhmat, J. 2003. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung: Mizan
Zakiyah Darajat. 1991. Ilmu JIwa Agama. Jakarta: PT Karya Uni Press

A. Timbulnya Jiwa Keagamaan pada Anak
Dari mana timbulnya jiwa keagamaan pada anak? Timbulnya jiwa keagamaan pada anak:
· Ada Sekolompok ahli yang berpendapat bahwa timbulnya jiwa keagamaan itu dari lingkungan, karena anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religious. Menurut pendapat ini, anak yang baru dilahirkan lebih mirip binatang dan bahkan anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan daripada bayi manusia itu sendiri.
Pendapat ini lebih melihat manusia dipandang dari segi bentuknya, bukan dari segi kejiwaannya.
· Ada pula sekolompok ahli yang berpendapat bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan. Namun fitrah ini baru berfungsi dikemudian hari setelah melalui proses bimbingan dan latihan.
Apakah fitrah beragama akan berkembang tanpa bimbingan?
Tidak, hal ini sesuai dengan prinsip pertumbuhan “bahwa anak menjadi dewasa, termasuk dalam bidang agama memerlukan bimbingan”. Apa yang mendasari diperlukannya bimbingan untuk mengantarkan orang menjadi dewasa?
1. Prinsip biologis
Anak dilahirkan dalam keadaan lemah, karena itu segala gerak dan tindak tanduknya memerlukan bimbingan dari orang-orang dewasa dilingkungannya.
2. Prinsip tanpa daya
Anak yang baru dilahirkan pertumbuhan fisik dan psikisnya belum sempurna, karena itu anak selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya.
3. Prinsip eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan potensi manusia yang dibawa sejak lahir baik jasmani maupun rohani memerlukan pengembangan melalui pemeliharaan dan latihan. Misalnya:
a) Jasmani baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih.
b) Akal dan fungsi-fungsi mental baru akan menjadi berfungsi dengan baik jika diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya (Jalaluddin, 2002:64)
Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan pada anak:
1. Menurut Teori four wishes yang dikemukakan oleh perkembangan jiwa keagamaan anak adalah “rasa ketergantungan (sense of defendnce)”
Menurut teori ini, manusia dilahirkan keduania memiliki empat keinginan:
ü Security: keinginan untuk mendapatkan perlindungan
ü New experience: keinginan untuk mendapat pengalaman
ü Response: Keinginan untuk mendapatkan tanggapan
ü Recognition: keinginan untuk dikenal
Kerjasama dalam rangka memenuhi keinginan-keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan, terutama orang-orang dewasa dalam lingkungannya itu maka terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.
2. Instink keagamaan
Pendapat ini dikemukakan oleh Woodworth, menurutnya, bayi yang dilahirkan sudah memiliki instink, diantaranya instink keagamaan, namun instink ini pada saat bayi belum terlihat, hal itu dikarenakan “beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna”.
Pandangan Woodworth ini mendapat sanggahan dari sekelompok ahli dengan mengajukan argumentasi:
ü Jika anak sudah memiliki instink keagamaan, mengapa orang idak terhayati secara ototmatis ketika mendengar lonceng gereja dibunyikan?
ü Jika anak sudah memiliki instink keagaaan, megnapa terdapat perbedaan agama di dunia ini? Bukankah cara berenang itik dan cara brung membuat sarang yang didasari pada tingkahlaku instingtif akan sama caranya disetiap penjuru duia ini? (Jalaluddin. 2002:65-66)
3. Fitah keagamaan
Pendapat ini berdasarkan konsep Islam yang didasarkan pada hadist Nabi yang berbunyi:
“Setiap anak dialhirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, atau Nasrani aau Majusi”.
Fitrah dalam hadist ini diartikan sebagai “potensi”. Fitrah ini baru berfungsi dikmudian hari melalui proses bimbingan dan latihan setelah berada pada tahap berikutnya. (Jalaluddin 2002:65, Sururin, 2004:48)
Bagaimana proses timbulnya kepercayaan kepada Tuhan dalam diri anak?
  1. Menurut Zakiyyah Darajat, anak mulai mengenal uhan melalui proses:
ü Melalui bahasa, yaitu dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya yang pada mulanya diterimanya secara acuh tak acuh.
ü Setelah itu karena melihat orang-orang dewasa menunjukkan rasa kagum dan takut terhadap Tuhan, maka mulailah timbul dalam diri anak rasa sedikit gelisah dan ragu tentang sesuatu yang haib yang tidak dapat dilihatnya itu (Tuhan).
ü Rasa gelisah dan ragu itu mendorong anak untuk ikut membca dan mengulang kata Tuhan yang diucapkan oleh orang tuanya.
ü Dari proses itu, tanpa disadari anak lambat laun “pemikiran tentang Tuhan” masuk menjadi bagian dari kepribadian anak dan menjadi objk pengalaman agamis.
Jadi pada awalnya Tuhan bagi anak-anak merupakn nama dari sesuatu yang asing yang tidak dikeenalnya, bahkan diragunakan kebaikannya. Pada tahap awal ini anak tidak mempunyai perhatian pada Tuhan, hal ini dikarenakan anak belum mempunyai pengalaman yang mempunyai pengalaman yang membawanya kesana (baik pengalaman yang menyenangkan atau pengalaman yang menyusahkan).
Perhatian anak pada Tuhan tumbuh dan dan berkembang setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekelilingnya tentang Tuhan yang disertai oleh emosi dan perasaan tertentu.
Bagaimana pengalaman awal anak-anak tentang Tuhan?
Menurut Zakiyyah Darajat, pengalaman awal anak-anak tentang Tuhan biasanya tidak menyenangkan, karena Tuhan merupakan ancaman bagi integritas kepribadiannya. Oleh sebab itu maka perhatian anak tentang Tuhan pada permulaannya merupakan sumber kegelisahan atau ketidaksenangannya. Hal inilah yang menyebabkan anak sering bertanya tentang zat, tempat dan perbuatan Tuhan. Pertanyaan itu betujuan untuk mengurangkan kegelisahannyaa. Lalu kemudian sesudah itu timbul keinginan untuk menentangnya atau mengingkarinya.
Jadi, pemikiran tentang Tuhan adalah suatu pemikiran tentang kenyatan luar, sehingga hal itu disukai oleh anak.
Namun untuk melanjutkan pertumbuhan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan itu, anak harus menderita dan mendapatkan sedikit pengalaman pahit, sehingga akhirnya ia menerima pemikiran tentang Tuhan setelah diingkariya (Zakiyah Darajat, 2003: 43-45).
  • Menurut Teori Freud, Tuhan bagi anakanak tidak lain adalah orang tua yang diproyeksikan. Jadi Tuhan pertama anak adalah orang tuanya. Dari lingkungan yang penuh kasih saying yang diciptakan olh orang tua, maka lahirlah pengalaman keagamaan yang mendalam.
B. Tahap Perkembangan Beragama pada Anak
Sebagai makhluk Tuhan, potensi beragama sudah ada pada manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa: “Dorongan untuk mengabdi kepada sang pencipta”. Dalam konsep Islam dorongan ini dikenal dengan istilah “Hidayat al Diniyyah” yang berupa benih-benih keberagaman yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Potensi inilah yang menyebabkan manusia itu menjadi makhluk beragama.
Apakah secara empiris manusia itu memiliki potensi beragama?
Ya, ini dapat dibukikan dari hasil kajian yang dilakukan:
1. Edward B. Taylor (Kajian antropologi budaya)
Dia menyebut potensi beragama itu dengan istilah “believe in spiritual being = kepercayaan kepada adi kodrati”. Dorongan ini merupakan kepercayaan/agama pada manusia.
Menurut Taylor, kenyataan adanya “Believe in spiritual being ini ditemukan pada suatu kehidupan yang primitif. Karena kemampuan berfikirnya masih bersifat anthromorphistis, maka kepercayaan kepada adi kodrati itu diwujudkan dalam bentuk benda konkrit seperti patung dll.
2. Stanley Hal
Dia menemukan adanya kecenderungan kepercayaan kepada adi kodrati itu dalam konsep “Totemisme”pada suku Indian. Totem ini pada suku Indian dianggap sebagai binatang yang dipercaya sebagai reinkarnasi leluhur nenek moyang mereka. Binatang ini kemudian dianggap suci dan menjadi lambang ritual keagamaan suku tersebut.
Kentalnya ketertarikan suku Indian kepada konsep totemisme ini menyebabkan:
ü Beberapa suku mengaitkan klan (suku) mereka dengan binatang ini.
ü Nama binatang totem sering diletakkan dibelakang dari masing-masing suku
Sebagai sebuah potensi, lantas bagaimana perkembangan potensi beragama tersebut?
  1. Berdasarka hasil penelitian Ernst Harms
Perkembangan beragama pada anak-anak melalui beberapa fase:
1. Tingkat dongeng (the fairy tale stage, 3 – 6 tahun)
ü Konsep mengenai Tuhan dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.
ü Anak menanggapi agama masih menggunakan konsep fantastic yang diliputi oleh dongeng-dongeng.
ü Perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajaran agamanya.
ü Cerita keagamaan akan menarik perhatiannya jika dikaitkan dengan masa kanak-kanaknya.
ü Padangan teologis, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan.
2. Tingkat kepercayaan (the realistic stage)
ü Ide-ide anak tentang Tuhan telah tercermin dalam konsep-konsep yang realistic.
ü Ide keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional, sehingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis.
ü Anak mulai tertarik dan senang pada lembaga keagamaan.
ü Pemikiran anak tentang Tuhan sebagai Bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta.
ü Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan logika/akal.
ü Dalam padangan anak, Tuhan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk semesta.
3. Tingkat Individu (the individual stage, usia remaja)
Pada tingkat ini anak tlah memiliki kepekaan mosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.
Konsep keagamaan yang individualis ini dibagi kepada tiga golongan:
a) Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif yang masih sebagian kecil dipengaruhi oleh fantasi.
b) Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal.
c) Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistic, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama (Jalaluddin, 2002: 66-67)
  1. Menurut Imam Bawani perkembangan agama pada masa anak-anak.
Dibagi menjadi 4 bagian:
1. Fase dalam kandungan
Pda fase ini perkembangan agama dimulai sejal Allah meniupkan ruh pada bayi, yaitu ketika perjanjian antara ruh manusia dengan Tuhan (al-A’raf ayat 172).
2. Fase bayi
Pada fase ini belum banyak diketahui perkembanan beragama ana, namun isyarat mengenalkan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadist, seperti anjuran mengazankan/mengikamatkan ketika anak baru lahir.
3. Fase anak-anak
ü Anak mengenal Tuhan melalui ucapan dan perilaku orang dewasa yang mengungkapkan rasa kagum pada Tuhan.
ü Anak mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran agama.
ü Tindakan keagamaan anak didasarkan pada peniruan
4. Fase anak prasekolah
Perkembangan keagamaan anak menunjukkan perkembangan yang semakin realistic (Sururin, 2004: 55-56)
  1. Menurut Zakiyyah Darajat, perkembangan perasaan anak pada Tuhan dapat dibedakan dalam 2 bagian:
1. Usia sebelum 7 tahun
ü Perasaan anak pada Tuhan adalah negative, yaitu takut, menentang dan ragu.
ü Pada usia ini anak berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan, sedangkan gambarannya terhadap Tuhan sesuai dengan emosinya.
ü Dalam pandangan anak bersembunyi Tuhan (Tuhan tidak dapat dilihat) karena sikap Tuhan yang negatif, yaitu Tuhan punya niat jahat yang akan dilaksanakannya.
ü Kepercayaan anak tentang Tuhan, tempat dan bentuk Tuhan didorong oleh perasaan takut dan ingin merasa aman.
2. Uisa 7 tahun keatas
ü Perasaan anak pada Tuhan adalah positif, yaitu: cinta dan hormat.
ü Hubungan dengan Tuhan dipenuhi oleh rasa percaya dan rasa aman.
ü Tidak terlihatnya Tuhan, tidak lagi menyebabkan anak-anak meenjadi takut/gelisah.
ü Anak dapat menerima pemikiran tentang Tuhan adalah dalam rangka untuk menenangkan jiwa dari pertanyaan-pertanyaan, tantangan-tantangan yang kadang tidak dapat dijawab oleh orang dewasa.
ü Pada usia ini anak cenderung menjauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan negative, seperti mematikan, menyakitkan, dan mendatangkan bencana. Jadi kebutuhan anak pada Tuhan tidak sebagai Tuhan yang sangat perkasa bagi alam, tetapi lebih sebagai seorang bapak yang baik dan menjadi teman baginya.
ü Kepercayaan anak pada Tuhan bukanlah merupakan suatu keyakinan, tetapi adalah sikap emosi dimana “Tuhan adalah pemuasan keebutuhansi anak akan seorang plindung”.
ü Sampai kira-kira usia 8 tahun, hubungan anak dengan Tuhan adalah hubungan individual, yaitu: hubungan emosional antara ia dengan sesuatu yang tidak terlihat yang dibayangkan cengan cara sendiri.
ü Sembahyang bagi anak usia ini adalah untuk minta ampun atas kesalahannya atau untuk berterima kasih.
ü Pada usia ini anak tertarik melakukan aktivitas keagamaan di masjid atau tempat ibadah lainnya karena ketertarikan pada pakaian seragam yang berwarna-warni.
ü Pada usia ini anak cenderung mengikuti pengajian jika teman-temannya juga ikut pngajian (Zakiyyah Darajat, 2003: 50-55)
C. Sifat-Sifat Agama pada Anak
Ide keagamaan pda anak tumbuh mengikuti pola “ideal concept in authoristy”, artinya konsep keagamaan anak dipengaruhi oleh factor dari luar diri mereka. Jadi ketaatan anak-anak pada ajaran agama merupakan dampak dari apa yang mereka lihat, mereka pelajari dan dibiasakan oleh orang-orang dewasa atau orang tua di lingkungannya.
Berdasarkan konsep itu maka sifat dan bentuk agama anak-anak dapat dibagi atas:
1. Unreflective (tidak mendalam)
Hal ini ditunjukkan dengan:
Kebenaran ajaran agama diterima anak tanpa kritik, tidak begitu mendalam dan sekedarnya saja. Mereka sudah cukup puas dengan keterangan-keterangan walau tidak masuk akal.
2. Egosenris
Hal ini ditunjukkan dengan:
  • Dalam melaksanakan ajaran agama anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya.
  • Anak lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya. Misalnya: anak berdo’a/sholat yang dilakukan utuk mencapai keinginan-keinginan pribadi.
3. Anthromorphis
Hal ini ditunjukkan dengan:
· Konsep anak dengan Tuhan tmpak seperti menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. Dengan kata lain keadaan Tuhan sama dengan manusia, misalnya:
ü Pekerjaan Tuhan mencari dan menghukum orang yang berbuat jahat disaat orang itu berada dalam tempat yang gelap.
ü Yurga terletak dilangit dan tempat bagi orang yang baik.
ü Tuhan dapat melihat perbuatan manusia langsung kerumah-rumah mereka seperti layaknya orang mengintai.
· Menurut hasil penelitian Praff, anak usia 6 tahun menggambarkan Tuhan seperti manusia yang mempunyai wajah, telinga yang lebar dan besar. Tuhan tidak makan tapi hanya minum embun saja.
Jadi konsep Tuhan dibentuk sendiri berdasarkan fantasi masing-masing.
4. Verbal dan ritual
Hal ini ditunjukkan dengan:
ü Menghapal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan.
ü Mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntutan yang diajarkan
5. Imitatif
Hal ini ditunjukkan dengan:
Anak suka meniru tindakan keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang dilingkungannya (ortu).
6. Rasa Heran
Ini merupakn sifat keagamaan yang terakhir pada anak-anak. Hal ini ditandai dengan:
Anak mengagumi keindahan-keindahan lahiriah pada ciptaan Tuhan, namun rasa kagum ini belum kritis dan kratif.