Perkembangan agama pada anak-anak sangat
ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang didapatkannya, terutama pada
masa-masa pertumbuhan (0 – 12 tahun). Seorang anak yang pada masa itu tidak
mendapatkan pendidikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan,
maka ia nanti akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama.
Seyogyanya agama masuk ke dalam pribadi
anak bersamaan dengan pertumbuhan pribadinya, yaitu sejak lahir, bahkan lebih
dari itu, sejak dalam kandungan. Karena dalam pengamatan para ahli psikologi
terhadap orang-orang yang mengalami kesukaran kejiwaan. Tampak bahwa keadaan
dan sikap orang tua ketika si anak dalam kandungan telah mempunyai pengaruh
terhadap pertumbuhan jiwa anak dikemudian hari.
Hubungan anak dengan orang tuanya,
mempunyai pengaruh dalam perkembangan agama anak. Anak yang merasakan adanya
hubungan hangat dengan orang tuanya, merasa bahwa ia disayangi dan dilindungi
serta mendapat perlakuan yang baik, biasanya akan mudah menerima dan mengikuti
kebiasaan orang tuanya dan selanjutnya akan cenderung kepada agama. Akan
tetapi, hubungan yang kurang serasi, penuh ketakutan dan kecemasan, akan
menyebabkan sukarnya perkembangan agama anak.
Anak akan menerima apa saja yang dikatakan
oleh orang tuanya. Dia belum mempunyai kemampuan untuk memikirkan kata itu.
Bagi anak, orang tuanya adalah benar, berkuasa, pandai dan menentukan. Oleh
karena itu maka pertumbuhan agama pada anak tidak sama antara satu anak dengan
anak lainnya, karena tergantung pada lingkungan keluarganya (dominasi orang
tua).
Sehubungan dengan pertumbuhan kepercayaan
pada anak-anak, terjadi pula proses perkembangan pengertian tentang masalah
yang ghaib, seperti mati. Anak-anak belum bisa mengerti bahwa mati adalah hal
yang wajar bagi setiap orang yang bernyawa, termasuk manusia dan dia sendiri.
Pada umumnya masalah mati memang satu masalah yang tidak menyenangkan, bahkan
menimbulkan ketakutan, itu sebabnya maka banyak orang dewasa berusaha
menghindari anak-anak dari pengertian dan ketakutan akan mati tersebut.
Pada permulaan, mati bagi anak-anak
mengandung pengertian antara lain:
- Hati adalah
hukuman, yaitu orang yang jahat sajalah yang akan mati, karena ia
menyangka bahwa mati itu adalah sekedar perasaan sakit yang diderita
orang.
- Mati adalah
penyakit. Disangka oleh anak-anak bahwa mati adalah terhalangnya sebagian
orang dari menjalankan tugasnya, maka mati selalu berhubungan dengan
pemikiran anak-anak dengan dokter, ambulance dan sebagainya.
- Disamping itu,
anak-anak menyangka bahwa mati adalah peristiwa (kecelakaan) yang
tiba-tiba, misalnya tabrakan, tenggelam, kena pukul dan sebagainya. Maka
mati bukanlah keadaan umum dan bukanlah akhir dari setiap yang hidup.
- Tingkat terakhir
yang dapat dicapai oleh pengertian anak tentang mati adalah tidur.
Dengan semakin bertambahnya umur,
pengertian tentang mati oleh anak semakin terdoronglah jiwanya untuk menentang
atau menguah artinya, guna menguraikan kegelisahannya seseorang belum dapat
dikatakan matang, jika belum dapat menerima kenyataan mati yang sebenarnya,
hanya saja pengertian itu tidak didapatkan sekaligus, tetapi dengan berangsur-angsur.
Jadi, perkembangan jiwa agama pada anak
dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman-pengalamannya yang didapatkan dari
lingkungannya. Tetapi semua pengalaman itu akan berubah sesuai dengan umur
(kematangan) anak oleh pendidikan yang didapatkannya. Jelas disini bahwa,
pendidikan agama yang sehat pada masa anak-anak akan mempengaruhi jiwa agama
pada anak selanjutnya.
Religiusitas
adalah salah satu komponen bahasan dalam ilmu psikologi, khususnya psikologi
agama. Memang, sangat sulit mengembangkan salah satu disiplin ilmu ini, karena
ada beberapa rintangan dan kekurangan serta keterbatasan dalam mempelajari
sikap religious seseorang, diantaranya, agama itu sendiri susah di empiriskan,
melanggar norma agama, dan kepercayaan adalah hal yang bersifat abstrak.
Salah
satu cara untuk mempelajari jiwa agama adalah dengan mempelajari tingkah laku
agama yang tampak. Pada tahun 1922, Thouless mengembangkan metode filsafat
untuk mempelajari jiwa agama dan menerbitkan buku pada tahun 1923 dengan judul
“an Introduction to the Psychology of Religion”.
Thouless
menentang pendapat orang orang-orang yang mengatakan bahwa penelitian ilmiah
akan menghilangkan keyakinan beragama, dan sebaliknya dia mengatakan, dimana
penelitian secara ilmiah akan dapat menjadi sandaran yang kuat bagi agama. Ia
berangkat mempelajari agama dengan mempelajari defenisi-defenisi agama yang ada
menghasilkan kesimpulan bahwa agama terdapat tiga komponen didalamnya yaitu
tanggapan emosi dan dorongan. Ketiganya merupakan tiga komponen dari agama
yaitu:
a. Yang pertama melukiskan tentang cara dan kelakuan
b. Yang kedua adalah keyakinan dan pendapat akal
c. Yang ketiga adalah ala-alat, perasaan dan emosi.
Dari
sinilah dia menyimpulkan bahwa agama adalah proses hubungan manusia terhadap
sesuatu yang diyakininya, bahwa sesuatu itu lebih tinggi dari manusia.
Lebih
lanjut, dia menjelaskan bahwa, ada empat faktor yang mempengaruhi jiwa agama
atau religiusitas seseorang, yaitu:
Faktor sosial
Faktor sosial yang
mempengaruhi religiusitas seseorang seperti pendidikan dan pengajaran orang tua
ataupun tradisi sosial dan budaya yang berkembang dilingkungan orang yang
bersangkutan
Faktor alami, moral
dan afektif
Faktor ini seperti
konflik, pengalaman emosional, kekecewaan terhadap sesuatu yang melibatkan
perasaan mendalam, tuntutan-tuntutan moral, baik setuju ataupun menolak moral
tersebut
Faktor kebutuhan
Seseorang beragama,
karena orang tersebut membutuhkan agama sebagai sandaran, lepas dari rasa
bersalah, rasa aman, cinta kasih dan lain-lain dan tempat mengadu jika dalam
kesedihan.
Faktor intelektual
Faktor ini berhubungan
dengan proses pemikiran verbal, terutama dalam pembentukan keyakinan-keyakinan
terhadap agama. Faktor ini sangat penting, karena akan mengembangkan sikap
agama yang positif.
Referensi:
Thoules,
R.H. 2000. Pengantar Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Press
Rakhmat,
J. 2003. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung: Mizan
Zakiyah
Darajat. 1991. Ilmu JIwa Agama. Jakarta: PT Karya Uni Press
A. Timbulnya Jiwa Keagamaan pada Anak
Dari mana timbulnya
jiwa keagamaan pada anak? Timbulnya jiwa keagamaan pada anak:
· Ada
Sekolompok ahli yang berpendapat bahwa timbulnya jiwa keagamaan itu dari
lingkungan, karena anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religious.
Menurut pendapat ini, anak yang baru dilahirkan lebih mirip binatang dan bahkan
anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan daripada bayi manusia itu sendiri.
Pendapat ini lebih
melihat manusia dipandang dari segi bentuknya, bukan dari segi kejiwaannya.
· Ada
pula sekolompok ahli yang berpendapat bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa
fitrah keagamaan. Namun fitrah ini baru berfungsi dikemudian hari setelah
melalui proses bimbingan dan latihan.
Apakah fitrah
beragama akan berkembang tanpa bimbingan?
Tidak, hal ini sesuai
dengan prinsip pertumbuhan “bahwa anak menjadi dewasa, termasuk dalam bidang
agama memerlukan bimbingan”. Apa yang mendasari diperlukannya bimbingan untuk
mengantarkan orang menjadi dewasa?
1.
Prinsip biologis
Anak dilahirkan dalam keadaan lemah,
karena itu segala gerak dan tindak tanduknya memerlukan bimbingan dari
orang-orang dewasa dilingkungannya.
2.
Prinsip tanpa daya
Anak yang baru dilahirkan pertumbuhan
fisik dan psikisnya belum sempurna, karena itu anak selalu mengharapkan bantuan
dari orang tuanya.
3.
Prinsip eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan
potensi manusia yang dibawa sejak lahir baik jasmani maupun rohani memerlukan
pengembangan melalui pemeliharaan dan latihan. Misalnya:
a)
Jasmani baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih.
b) Akal
dan fungsi-fungsi mental baru akan menjadi berfungsi dengan baik jika diarahkan
kepada pengeksplorasian perkembangannya (Jalaluddin, 2002:64)
Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi
perkembangan jiwa keagamaan pada anak:
1.
Menurut Teori four wishes yang dikemukakan oleh perkembangan
jiwa keagamaan anak adalah “rasa ketergantungan (sense of defendnce)”
Menurut teori ini, manusia dilahirkan
keduania memiliki empat keinginan:
ü
Security: keinginan untuk mendapatkan perlindungan
ü New
experience: keinginan untuk mendapat pengalaman
ü
Response: Keinginan untuk mendapatkan tanggapan
ü
Recognition: keinginan untuk dikenal
Kerjasama
dalam rangka memenuhi keinginan-keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup
dalam ketergantungan, terutama orang-orang dewasa dalam lingkungannya itu maka
terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.
2.
Instink keagamaan
Pendapat
ini dikemukakan oleh Woodworth, menurutnya, bayi yang dilahirkan sudah memiliki
instink, diantaranya instink keagamaan, namun instink ini pada saat bayi belum
terlihat, hal itu dikarenakan “beberapa fungsi kejiwaan yang menopang
kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna”.
Pandangan
Woodworth ini mendapat sanggahan dari sekelompok ahli dengan mengajukan
argumentasi:
ü Jika
anak sudah memiliki instink keagamaan, mengapa orang idak terhayati secara
ototmatis ketika mendengar lonceng gereja dibunyikan?
ü Jika
anak sudah memiliki instink keagaaan, megnapa terdapat perbedaan agama di dunia
ini? Bukankah cara berenang itik dan cara brung membuat sarang yang didasari
pada tingkahlaku instingtif akan sama caranya disetiap penjuru duia ini?
(Jalaluddin. 2002:65-66)
3. Fitah
keagamaan
Pendapat
ini berdasarkan konsep Islam yang didasarkan pada hadist Nabi yang berbunyi:
“Setiap anak dialhirkan dalam keadaan
fitrah, maka orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, atau Nasrani aau
Majusi”.
Fitrah
dalam hadist ini diartikan sebagai “potensi”. Fitrah ini baru berfungsi
dikmudian hari melalui proses bimbingan dan latihan setelah berada pada tahap
berikutnya. (Jalaluddin 2002:65, Sururin, 2004:48)
Bagaimana
proses timbulnya kepercayaan kepada Tuhan dalam diri anak?
- Menurut
Zakiyyah Darajat, anak
mulai mengenal uhan melalui proses:
ü Melalui
bahasa, yaitu dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya yang pada
mulanya diterimanya secara acuh tak acuh.
ü Setelah
itu karena melihat orang-orang dewasa menunjukkan rasa kagum dan takut terhadap
Tuhan, maka mulailah timbul dalam diri anak rasa sedikit gelisah dan ragu
tentang sesuatu yang haib yang tidak dapat dilihatnya itu (Tuhan).
ü Rasa
gelisah dan ragu itu mendorong anak untuk ikut membca dan mengulang kata Tuhan
yang diucapkan oleh orang tuanya.
ü Dari
proses itu, tanpa disadari anak lambat laun “pemikiran tentang Tuhan” masuk
menjadi bagian dari kepribadian anak dan menjadi objk pengalaman agamis.
Jadi pada
awalnya Tuhan bagi anak-anak merupakn nama dari sesuatu yang asing yang tidak
dikeenalnya, bahkan diragunakan kebaikannya. Pada tahap awal ini anak tidak
mempunyai perhatian pada Tuhan, hal ini dikarenakan anak belum mempunyai
pengalaman yang mempunyai pengalaman yang membawanya kesana (baik pengalaman
yang menyenangkan atau pengalaman yang menyusahkan).
Perhatian
anak pada Tuhan tumbuh dan dan berkembang setelah ia menyaksikan reaksi
orang-orang disekelilingnya tentang Tuhan yang disertai oleh emosi dan perasaan
tertentu.
Bagaimana
pengalaman awal anak-anak tentang Tuhan?
Menurut
Zakiyyah Darajat, pengalaman awal anak-anak tentang Tuhan biasanya tidak
menyenangkan, karena Tuhan merupakan ancaman bagi integritas kepribadiannya.
Oleh sebab itu maka perhatian anak tentang Tuhan pada permulaannya merupakan
sumber kegelisahan atau ketidaksenangannya. Hal inilah yang menyebabkan anak sering
bertanya tentang zat, tempat dan perbuatan Tuhan. Pertanyaan itu betujuan untuk
mengurangkan kegelisahannyaa. Lalu kemudian sesudah itu timbul keinginan untuk
menentangnya atau mengingkarinya.
Jadi,
pemikiran tentang Tuhan adalah suatu pemikiran tentang kenyatan luar, sehingga
hal itu disukai oleh anak.
Namun
untuk melanjutkan pertumbuhan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan itu, anak
harus menderita dan mendapatkan sedikit pengalaman pahit, sehingga akhirnya ia
menerima pemikiran tentang Tuhan setelah diingkariya (Zakiyah Darajat, 2003:
43-45).
- Menurut Teori
Freud, Tuhan bagi anakanak tidak lain adalah orang tua yang diproyeksikan.
Jadi Tuhan pertama anak adalah orang tuanya. Dari lingkungan yang penuh
kasih saying yang diciptakan olh orang tua, maka lahirlah pengalaman
keagamaan yang mendalam.
B. Tahap
Perkembangan Beragama pada Anak
Sebagai makhluk
Tuhan, potensi beragama sudah ada pada manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini
berupa: “Dorongan untuk mengabdi kepada sang pencipta”. Dalam konsep Islam
dorongan ini dikenal dengan istilah “Hidayat al Diniyyah” yang berupa
benih-benih keberagaman yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Potensi inilah
yang menyebabkan manusia itu menjadi makhluk beragama.
Apakah secara empiris
manusia itu memiliki potensi beragama?
Ya, ini dapat
dibukikan dari hasil kajian yang dilakukan:
1. Edward
B. Taylor (Kajian antropologi budaya)
Dia menyebut potensi beragama itu dengan
istilah “believe in spiritual being = kepercayaan kepada adi kodrati”. Dorongan
ini merupakan kepercayaan/agama pada manusia.
Menurut
Taylor, kenyataan adanya “Believe in spiritual being“ ini
ditemukan pada suatu kehidupan yang primitif. Karena kemampuan berfikirnya
masih bersifat anthromorphistis, maka kepercayaan kepada adi kodrati itu
diwujudkan dalam bentuk benda konkrit seperti patung dll.
2.
Stanley Hal
Dia
menemukan adanya kecenderungan kepercayaan kepada adi kodrati itu dalam konsep
“Totemisme”pada suku Indian. Totem ini pada suku Indian dianggap sebagai
binatang yang dipercaya sebagai reinkarnasi leluhur nenek moyang mereka.
Binatang ini kemudian dianggap suci dan menjadi lambang ritual keagamaan suku
tersebut.
Kentalnya
ketertarikan suku Indian kepada konsep totemisme ini menyebabkan:
ü
Beberapa suku mengaitkan klan (suku) mereka dengan binatang ini.
ü Nama
binatang totem sering diletakkan dibelakang dari masing-masing suku
Sebagai sebuah potensi, lantas bagaimana
perkembangan potensi beragama tersebut?
- Berdasarka hasil
penelitian Ernst Harms
Perkembangan beragama pada anak-anak
melalui beberapa fase:
1.
Tingkat dongeng (the fairy tale stage, 3 – 6 tahun)
ü Konsep
mengenai Tuhan dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.
ü Anak
menanggapi agama masih menggunakan konsep fantastic yang diliputi oleh
dongeng-dongeng.
ü Perhatian
anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajaran agamanya.
ü Cerita
keagamaan akan menarik perhatiannya jika dikaitkan dengan masa kanak-kanaknya.
ü
Padangan teologis, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada
individual, emosional dan spontan.
2.
Tingkat kepercayaan (the realistic stage)
ü Ide-ide
anak tentang Tuhan telah tercermin dalam konsep-konsep yang realistic.
ü Ide
keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional, sehingga mereka dapat
melahirkan konsep Tuhan yang formalis.
ü Anak
mulai tertarik dan senang pada lembaga keagamaan.
ü
Pemikiran anak tentang Tuhan sebagai Bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta.
ü
Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada
hubungan dengan menggunakan logika/akal.
ü Dalam
padangan anak, Tuhan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk semesta.
3.
Tingkat Individu (the individual stage, usia remaja)
Pada
tingkat ini anak tlah memiliki kepekaan mosi yang paling tinggi sejalan dengan
perkembangan usia mereka.
Konsep
keagamaan yang individualis ini dibagi kepada tiga golongan:
a) Konsep
ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif yang masih sebagian kecil
dipengaruhi oleh fantasi.
b) Konsep
ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat
personal.
c) Konsep
ke-Tuhanan yang bersifat humanistic, yaitu agama telah menjadi etos humanis
dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama (Jalaluddin, 2002: 66-67)
- Menurut Imam
Bawani perkembangan agama pada masa anak-anak.
Dibagi menjadi 4 bagian:
1. Fase
dalam kandungan
Pda fase ini perkembangan agama dimulai
sejal Allah meniupkan ruh pada bayi, yaitu ketika perjanjian antara ruh manusia
dengan Tuhan (al-A’raf ayat 172).
2. Fase
bayi
Pada fase ini belum banyak diketahui
perkembanan beragama ana, namun isyarat mengenalkan ajaran agama banyak
ditemukan dalam hadist, seperti anjuran mengazankan/mengikamatkan ketika anak
baru lahir.
3. Fase
anak-anak
ü Anak
mengenal Tuhan melalui ucapan dan perilaku orang dewasa yang mengungkapkan rasa
kagum pada Tuhan.
ü Anak
mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran agama.
ü
Tindakan keagamaan anak didasarkan pada peniruan
4. Fase
anak prasekolah
Perkembangan keagamaan anak menunjukkan
perkembangan yang semakin realistic (Sururin, 2004: 55-56)
- Menurut Zakiyyah
Darajat, perkembangan perasaan anak pada Tuhan dapat dibedakan dalam 2
bagian:
1. Usia
sebelum 7 tahun
ü
Perasaan anak pada Tuhan adalah negative, yaitu takut, menentang dan ragu.
ü Pada
usia ini anak berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan
Tuhan, sedangkan gambarannya terhadap Tuhan sesuai dengan emosinya.
ü Dalam
pandangan anak bersembunyi Tuhan (Tuhan tidak dapat dilihat) karena sikap Tuhan
yang negatif, yaitu Tuhan punya niat jahat yang akan dilaksanakannya.
ü
Kepercayaan anak tentang Tuhan, tempat dan bentuk Tuhan didorong oleh perasaan
takut dan ingin merasa aman.
2. Uisa 7
tahun keatas
ü
Perasaan anak pada Tuhan adalah positif, yaitu: cinta dan hormat.
ü
Hubungan dengan Tuhan dipenuhi oleh rasa percaya dan rasa aman.
ü Tidak
terlihatnya Tuhan, tidak lagi menyebabkan anak-anak meenjadi takut/gelisah.
ü Anak
dapat menerima pemikiran tentang Tuhan adalah dalam rangka untuk menenangkan
jiwa dari pertanyaan-pertanyaan, tantangan-tantangan yang kadang tidak dapat
dijawab oleh orang dewasa.
ü Pada
usia ini anak cenderung menjauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan negative,
seperti mematikan, menyakitkan, dan mendatangkan bencana. Jadi kebutuhan anak
pada Tuhan tidak sebagai Tuhan yang sangat perkasa bagi alam, tetapi lebih
sebagai seorang bapak yang baik dan menjadi teman baginya.
ü
Kepercayaan anak pada Tuhan bukanlah merupakan suatu keyakinan, tetapi adalah
sikap emosi dimana “Tuhan adalah pemuasan keebutuhansi anak akan seorang
plindung”.
ü Sampai
kira-kira usia 8 tahun, hubungan anak dengan Tuhan adalah hubungan individual,
yaitu: hubungan emosional antara ia dengan sesuatu yang tidak terlihat yang
dibayangkan cengan cara sendiri.
ü
Sembahyang bagi anak usia ini adalah untuk minta ampun atas kesalahannya atau
untuk berterima kasih.
ü Pada
usia ini anak tertarik melakukan aktivitas keagamaan di masjid atau tempat
ibadah lainnya karena ketertarikan pada pakaian seragam yang berwarna-warni.
ü Pada
usia ini anak cenderung mengikuti pengajian jika teman-temannya juga ikut
pngajian (Zakiyyah Darajat, 2003: 50-55)
C.
Sifat-Sifat Agama pada Anak
Ide keagamaan pda
anak tumbuh mengikuti pola “ideal concept in authoristy”, artinya
konsep keagamaan anak dipengaruhi oleh factor dari luar diri mereka. Jadi
ketaatan anak-anak pada ajaran agama merupakan dampak dari apa yang mereka
lihat, mereka pelajari dan dibiasakan oleh orang-orang dewasa atau orang tua di
lingkungannya.
Berdasarkan konsep itu
maka sifat dan bentuk agama anak-anak dapat dibagi atas:
1.
Unreflective (tidak mendalam)
Hal ini ditunjukkan dengan:
Kebenaran
ajaran agama diterima anak tanpa kritik, tidak begitu mendalam dan sekedarnya
saja. Mereka sudah cukup puas dengan keterangan-keterangan walau tidak masuk
akal.
2.
Egosenris
Hal ini ditunjukkan dengan:
- Dalam
melaksanakan ajaran agama anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya.
- Anak lebih
menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya.
Misalnya: anak berdo’a/sholat yang dilakukan utuk mencapai
keinginan-keinginan pribadi.
3.
Anthromorphis
Hal ini ditunjukkan dengan:
· Konsep
anak dengan Tuhan tmpak seperti menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. Dengan
kata lain keadaan Tuhan sama dengan manusia, misalnya:
ü
Pekerjaan Tuhan mencari dan menghukum orang yang berbuat jahat disaat orang itu
berada dalam tempat yang gelap.
ü Yurga
terletak dilangit dan tempat bagi orang yang baik.
ü Tuhan
dapat melihat perbuatan manusia langsung kerumah-rumah mereka seperti layaknya
orang mengintai.
· Menurut
hasil penelitian Praff, anak usia 6 tahun menggambarkan Tuhan seperti manusia
yang mempunyai wajah, telinga yang lebar dan besar. Tuhan tidak makan tapi
hanya minum embun saja.
Jadi konsep Tuhan dibentuk sendiri
berdasarkan fantasi masing-masing.
4. Verbal
dan ritual
Hal ini ditunjukkan dengan:
ü
Menghapal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan.
ü
Mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut
tuntutan yang diajarkan
5.
Imitatif
Hal ini ditunjukkan dengan:
Anak suka
meniru tindakan keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang dilingkungannya
(ortu).
6. Rasa
Heran
Ini merupakn sifat keagamaan yang terakhir
pada anak-anak. Hal ini ditandai dengan:
Anak
mengagumi keindahan-keindahan lahiriah pada ciptaan Tuhan, namun rasa kagum ini
belum kritis dan kratif.